MDR QRIS: Berapa Potongan yang Diambil dari Tiap Transaksi

Tarif MDR QRIS ditetapkan Bank Indonesia dan seragam di semua penyedia. Ini angka resminya, cara hitung potongannya, dan aturan soal pembeli.

T Teguh Karyo Utomo 23 Juli 2026
Share

Pembeli scan QRIS, transfer Rp50.000, tapi begitu mutasi rekening dicek, yang masuk tidak selalu bulat Rp50.000. Kadang memang bulat, kadang berkurang sedikit. Penjual yang belum paham langsung curiga — dipotong penyedia QRIS-nya, dipotong bank, atau ada biaya tersembunyi yang tidak pernah dijelaskan di awal daftar. Yang dipotong itu punya nama: MDR, dan aturannya jauh lebih jelas dari yang dibayangkan kebanyakan pedagang.

MDR Itu Apa

MDR (Merchant Discount Rate) adalah biaya yang dipotong dari nilai transaksi QRIS setiap kali pembeli bayar, dibebankan ke merchant (penjual) — bukan tarif tambahan yang ditagihkan terpisah, tapi langsung mengurangi nominal yang akhirnya masuk ke rekening penjual. Biaya ini yang membuat dana settlement QRIS kadang tidak bulat sama seperti nominal yang diketik pembeli saat scan.

Tarif Resmi MDR QRIS dari Bank Indonesia

Angka di bawah ini bukan tarif dari penyedia mana pun, tapi ditetapkan langsung oleh Bank Indonesia dan berlaku efektif sejak 15 Maret 2025, masih berlaku per Juli 2026 (diverifikasi ke publikasi resmi BI pada 2026-07-23).

Kategori merchantKondisiTarif MDR
Usaha Mikro (UMI)transaksi ≤ Rp500.0000%
Usaha Mikro (UMI)transaksi > Rp500.0000,3%
Usaha Kecil/Menengah/Besar (UKE/UME/UBE)semua transaksi0,7%
Pendidikan0,6%
SPBU0,4%
BLU, PSO, G2P, P2G, donasi sosial0%

Dua aturan penyerta yang sering tidak dibaca sampai tuntas: MDR ditanggung merchant, dan dilarang dibebankan ke pembeli dalam bentuk apa pun — ini akan dibahas lebih detail di bagian bawah.

Kenapa Tarifnya Sama di Semua Penyedia

Ini bagian yang jarang ditulis blog penyedia QRIS, dan alasannya masuk akal kalau dipikir: MDR bukan angka yang ditentukan masing-masing platform, tapi ketetapan Bank Indonesia yang berlaku untuk semua pihak yang menyelenggarakan QRIS. Bank penerbit merchant QRIS, dompet digital, sampai payment gateway — semuanya tunduk pada tabel yang sama di atas.

Konsekuensinya, klaim “MDR kami paling murah” yang sering muncul di halaman promosi penyedia QRIS itu tidak masuk akal secara aturan. Kalau memang sama-sama patuh ketetapan BI, tidak ada penyedia yang bisa menawarkan MDR lebih rendah dari 0,7% untuk kategori UKE, atau lebih rendah dari 0,3% untuk UMI di atas Rp500.000. Kalau ada yang mengklaim tarifnya lebih murah dari itu, yang perlu dicurigai justru kejelasan syarat dan ketentuannya, bukan langsung percaya sedang dapat penawaran istimewa.

Yang berarti, “cari penyedia dengan MDR termurah” itu pertanyaan yang salah arah dari awal. Pertanyaan yang lebih berguna: seberapa cepat dana settlement cair ke rekening, dan fitur apa yang benar-benar dibutuhkan cara jualan yang dijalankan. Untuk toko fisik, itu soal kecepatan pencairan dan kemudahan rekonsiliasi mutasi harian. Untuk toko online, kebutuhannya beda lagi — payment gateway yang dipakai harus bisa mengubah status pesanan otomatis begitu QRIS dibayar, bukan cuma menerima dananya masuk. Bagian ini dibahas lebih detail di bagian bawah.

Praktiknya, dua toko yang sama-sama pakai QRIS bisa membayar MDR persis sama persennya, tapi pengalaman jualannya berbeda karena kecepatan pencairan dana antar penyedia tidak sama. Ini justru yang perlu ditanyakan sebelum daftar, dan jawabannya bisa berubah sewaktu-waktu — jadi tanyakan langsung ke penyedia, jangan pegang angka dari artikel mana pun. Untuk usaha yang perputaran kasnya ketat — misalnya belanja bahan baku produksi tiap hari — kecepatan pencairan ini jauh lebih menentukan dibanding selisih tarif yang memang sudah dipatok sama oleh BI.

Simulasi: Berapa yang Benar-Benar Masuk

Supaya tidak abstrak, berikut hitungan nyata dari tabel di atas. Anggap merchant berstatus UMI (usaha mikro), kategori yang paling umum dipakai UMKM kecil:

Nominal transaksiTarif MDRPotonganYang masuk ke rekening
Rp50.0000% (≤ Rp500rb)Rp0Rp50.000
Rp300.0000% (≤ Rp500rb)Rp0Rp300.000
Rp750.0000,3% (> Rp500rb)Rp2.250Rp747.750

Untuk transaksi Rp750.000, potongannya dihitung dari 0,3% × Rp750.000 = Rp2.250. Jadi yang masuk ke rekening bukan Rp750.000 bulat, tapi Rp747.750.

Bandingkan dengan merchant berstatus UKE (usaha kecil/menengah/besar), yang tarifnya 0,7% untuk semua nominal tanpa syarat batas Rp500.000:

Nominal transaksiTarif MDRPotonganYang masuk ke rekening
Rp750.0000,7% (semua nominal)Rp5.250Rp744.750

Selisihnya kelihatan kecil di satu transaksi, tapi status merchant ini yang menentukan apakah UMKM kena potongan 0% atau harus bayar 0,3-0,7% di setiap transaksi di atas Rp500.000 — jadi ada baiknya dipastikan status merchant terdaftar sudah benar sebagai UMI, bukan otomatis dianggap UKE oleh penyedia.

Ada satu hal yang layak dicek ulang: usaha yang masih skala mikro bisa saja terdaftar dengan kategori UKE, entah karena salah isi formulir pendaftaran atau karena kategorinya ditetapkan sepihak saat pendaftaran diproses. Kalau ini terjadi, penjual kena potongan 0,7% di semua transaksi — termasuk yang di bawah Rp500.000, yang harusnya 0% kalau kategorinya benar UMI. Selisih ini terus berulang di setiap transaksi selama status merchant belum dikoreksi, dan koreksinya biasanya cukup dengan menghubungi penyedia untuk verifikasi ulang dokumen usaha.

MDR Dilarang Dibebankan ke Pembeli — Ini Batasnya

Aturan ini sering disalahpahami. Karena MDR mengurangi pendapatan yang masuk, godaan paling gampang adalah menaikkan harga khusus untuk pembeli yang bayar via QRIS, supaya potongannya “ditutup” pembeli. Ini yang dilarang keras dalam aturan BI — MDR wajib ditanggung merchant, tidak boleh dibebankan ke pembeli dalam bentuk biaya tambahan apa pun, entah disebut biaya admin, biaya QRIS, atau surcharge.

Bedanya harus jelas: menaikkan harga jual untuk semua metode pembayaran sekaligus — tunai, transfer, QRIS — itu keputusan bisnis yang sah-sah saja, karena harga sama untuk siapa pun yang beli. Yang dilanggar adalah menambah biaya khusus hanya untuk pembeli yang pilih bayar pakai QRIS, sementara yang bayar tunai tidak kena biaya sama sekali. Bentuknya bisa bermacam-macam — tulisan tambahan biaya di dekat meja kasir, atau harga yang diam-diam dibedakan saat pembeli memilih QRIS. Berapa pun nominalnya, itu tetap melanggar aturan, meski jarang ditegur langsung.

Alasan aturan ini dibuat cukup masuk akal kalau ditelusuri: kalau MDR boleh dibebankan ke pembeli, insentif merchant untuk pindah dari transaksi tunai ke QRIS jadi hilang, padahal salah satu tujuan QRIS memang mempermudah pencatatan transaksi non-tunai. Praktik menambah biaya khusus QRIS juga bikin pembeli jadi enggan pakai metode itu, padahal dari sisi penjual QRIS sebenarnya lebih memudahkan rekonsiliasi dibanding transfer manual antar bank yang beda-beda kode banknya.

Dampak ke Margin, Kecil Tapi Nyata

Angka 0,3% atau 0,7% memang kelihatan sepele per transaksi, tapi efeknya baru terasa kalau margin produk sudah tipis dari awal. Produk dengan margin 5-10% — yang umum untuk barang reseller atau produk dengan komponen bahan baku mahal — potongan 0,7% itu setara memakan sekitar 7-14% dari margin bersihnya, bukan dari omzetnya. Ini beda jauh dari kesan “cuma potongan kecil” kalau dilihat sepintas dari persentase nominalnya saja.

Kalau belum yakin berapa margin sebenarnya di tiap produk setelah dipotong MDR dan biaya lain, cara paling cepat mengeceknya lewat kalkulator HPP — masukkan komponen biaya produksi, lalu bandingkan dengan harga jual yang sudah berjalan. Kalau selama ini penetapan harga jual masih menyamakan margin dengan markup, ada baiknya dibaca dulu beda margin dan markup serta cara menghitungnya, karena keduanya sering ketuker dan berujung salah hitung untung bersih. Untuk yang sering kasih diskon musiman, potongan MDR ini juga perlu masuk hitungan supaya diskon tidak diam-diam menggerus margin lebih dalam dari yang disadari — dibahas lebih detail di cara menghitung diskon yang aman untuk margin.

Untuk toko yang sudah pakai WooCommerce, biaya MDR ini sebaiknya tidak dibiarkan tersembunyi di balik angka pendapatan kotor. Laporan penjualan bawaan WooCommerce memang tidak otomatis memisahkan potongan MDR dari nominal transaksi, jadi kalau mau tahu berapa sebenarnya yang tergerus dari margin bulanan, angka pendapatan di laporan perlu dicocokkan manual dengan mutasi settlement dari payment gateway. Angka mana saja yang perlu dipantau rutin di laporan WooCommerce dijelaskan lebih lengkap di 5 angka penting di laporan WooCommerce yang perlu dibaca UMKM.

QRIS Statis vs Dinamis untuk Toko Online

Bagian ini sering terlewat karena mayoritas konten QRIS ditulis untuk warung tatap muka, padahal bedanya cukup krusial untuk yang jualan lewat toko online. QRIS statis — yang berupa satu kode QR cetak atau stiker, dipasang permanen di meja kasir — mengharuskan penjual mencocokkan mutasi rekening secara manual dengan pesanan yang masuk. Untuk toko online, ini berarti status order di sistem tidak berubah otomatis; penjual harus buka aplikasi mobile banking, cari transaksi yang cocok nominalnya, lalu update status pesanan satu per satu secara manual.

Untuk toko online yang transaksinya rutin dan volumenya mulai banyak, yang dibutuhkan adalah QRIS dinamis — kode QR yang di-generate berbeda tiap transaksi lewat payment gateway, lengkap dengan sistem callback yang otomatis mengubah status order jadi “lunas” begitu pembayaran diterima. Bedanya cukup terasa begitu volume pesanan naik: dengan QRIS statis, penjual dengan 15-20 pesanan sehari harus membuka mutasi rekening satu per satu dan mencocokkan nominal dengan daftar pesanan yang masuk manual — pekerjaan yang gampang salah kalau ada dua pembeli yang kebetulan transfer nominal sama persis di jam yang berdekatan. QRIS dinamis menghilangkan pekerjaan itu karena tiap kode sudah terikat ke satu nomor pesanan.

Alur teknisnya, termasuk bagaimana callback ini bekerja di WooCommerce, dibahas lengkap di alur bayar QRIS di WooCommerce yang tidak membingungkan pembeli. Kalau belum menentukan payment gateway mana yang dipakai untuk mengaktifkan QRIS dinamis ini, pilihannya bisa dicek di payment gateway WooCommerce untuk UMKM — MDR yang berlaku tetap tabel yang sama di atas, karena payment gateway juga tunduk pada ketetapan BI, bukan penetapan sendiri.

Langkah Berikutnya

Yang paling penting dipegang dari MDR QRIS: tarifnya ditetapkan Bank Indonesia, seragam di semua penyedia, dan tidak boleh dibebankan ke pembeli. Kalau status merchant belum yakin UMI atau UKE, itu yang menentukan kena potongan 0% atau tidak untuk transaksi di bawah Rp500.000 — layak dicek langsung ke penyedia QRIS yang dipakai. Untuk yang masih bingung bedanya QRIS merchant dengan QRIS pribadi yang sering dipakai asal pakai, itu topik lanjutan yang perlu dipahami sebelum daftar resmi sebagai usaha.

qris mdr-qris biaya-usaha

Artikel Terkait