Cara Menentukan Harga Jual Produk Konveksi & Kaos untuk UMKM

Cara menghitung harga jual baju konveksi dari modal kain, ongkos jahit, dan aksesoris, plus beda markup dan margin supaya untung sesuai target.

T Teguh Karyo Utomo 18 Juli 2026
Share

Banyak pemilik konveksi menentukan harga jual kaos dengan cara yang sama: lihat harga kompetitor di marketplace, kurangi sedikit biar kelihatan lebih murah, lalu itu yang dipasang. Cara ini gampang berujung dua masalah. Kalau order sepi, harga dianggap kemahalan padahal belum tentu — bisa jadi komponen biayanya memang beda dengan kompetitor. Kalau order ramai, justru sering ketahuan belakangan bahwa margin per potong nyaris tipis, apalagi setelah dipotong ongkir dan biaya packing.

Akar masalahnya biasanya bukan di jualan, tapi di hitungan dasar yang dilompati. Modal per potong tidak dijumlah lengkap, atau markup dan margin tertukar sehingga angka yang keluar terasa “asal aman” tanpa tahu persis berapa untung riil yang dibawa pulang.

Sebelum bicara berapa persen untung, beresi dulu angka modalnya. Untuk produk konveksi, modal per potong terdiri dari tiga komponen:

  • Kain/bahan per potong — harga kain dibagi jumlah potong yang bisa dihasilkan dari satu roll atau kiloan.
  • Ongkos jahit per potong — upah penjahit atau vendor produksi, biasanya sudah dipatok per potong untuk model tertentu.
  • Aksesoris — kancing, label, hangtag, benang, dan bahan pelengkap lain yang sering luput dihitung karena nilainya kecil per item.

Sebagai ilustrasi, misalkan kain per potong Rp25.000, ongkos jahit Rp10.000, dan aksesoris Rp2.000. Modal per potong adalah Rp37.000. Angka ini yang dipakai sebagai dasar, bukan harga jual kompetitor.

Satu hal yang sering dilewatkan: sisa kain (waste) dari proses potong pola tidak pernah nol. Kalau efisiensi potong di kisaran 90-95%, artinya 5-10% kain yang dibeli tidak jadi produk jadi. Kalau harga kain dihitung dari harga beli mentah tanpa memperhitungkan sisa ini, modal per potong yang riil sebenarnya lebih tinggi dari yang tercatat di kertas. Daripada menghitung manual satu-satu, komponen modal ini bisa langsung dimasukkan ke Kalkulator HPP & Harga Jual mode Konveksi, tinggal isi kain, jahit, dan aksesoris, hasil modal per potong langsung keluar.

Markup vs Margin: Rumus yang Sering Tertukar

Setelah modal per potong ketemu, langkah berikutnya adalah menentukan berapa persen di atasnya untuk jadi harga jual. Di sinilah markup dan margin sering disamakan padahal hasilnya beda jauh.

Markup dihitung dari modal: markup = untung ÷ modal. Kalau markup 40% dipakai pada modal Rp37.000, untungnya Rp14.800 dan harga jual jadi Rp51.800 (modal × (1 + markup)). Tapi kalau untung Rp14.800 itu dibagi harga jual Rp51.800, hasilnya cuma 28,6%. Artinya markup 40% tidak sama dengan margin 40%.

Margin dihitung dari harga jual: margin = untung ÷ harga jual. Kalau targetnya margin bersih 40% dari harga jual (bukan dari modal), rumusnya jadi harga jual = modal ÷ (1 − margin). Dari modal Rp37.000, harga jualnya Rp61.700, dengan untung Rp24.700. Kalau untung ini dikonversi ke markup, angkanya 66,7% — jauh lebih tinggi dari markup 40% di atas.

Selisih ini yang bikin banyak konveksi merasa “sudah kasih markup lumayan” tapi pas dihitung ulang, margin bersihnya jauh di bawah target. Kalau target usahanya margin 30-40% bersih dari harga jual, pakai rumus margin, bukan markup — dua rumus ini tidak bisa dipakai bergantian sembarangan. Toggle mode markup/margin di Kalkulator HPP & Harga Jual berguna persis untuk menghindari salah pakai rumus ini, terutama saat harga kain naik dan harga jual perlu disesuaikan cepat.

Minimum Order dan Harga Grosir vs Satuan

Modal per potong konveksi tidak flat di semua kuantitas. Ongkos jahit per potong biasanya turun kalau jumlah pesanan naik, karena vendor produksi bisa menjahit dalam batch dan biaya setup pola dibagi ke lebih banyak potong. Ini sebabnya sebagian besar konveksi memasang skema harga bertingkat, bukan satu harga untuk semua kuantitas.

KuantitasKarakter Harga
Di bawah minimum order (misal < 12-24 pcs)Modal per potong paling tinggi, sering tidak worth diproduksi terpisah
Minimum order standarHarga satuan reguler, cocok untuk pembeli individu/komunitas kecil
Partai/grosirHarga per potong turun bertahap, biasanya per rentang kuantitas

Untuk pesanan partai besar, ada satu komponen yang gampang lupa dihitung di luar modal produksi: ongkir kargo ke luar kota. Kalau paket dikirim satuan dengan ekspedisi reguler, ongkos kirim per potong bisa jauh lebih mahal dibanding kalau dikonsolidasi dan dikirim pakai kargo. Detail cara menghitung dan membandingkan opsi ini ada di cara hitung ongkir kargo kaos partai besar dari konveksi ke luar kota, supaya harga jual untuk pesanan besar tidak kebobolan di ongkos kirim setelah harga produk sudah disepakati.

Penetapan minimum order juga sebaiknya tidak dipatok asal angka bulat seperti 12 atau 24 pcs tanpa alasan. Angka minimum order idealnya mengikuti titik impas produksi: di kuantitas berapa ongkos jahit per potong sudah cukup rendah sehingga harga jual masih kompetitif tapi margin tetap aman. Kalau minimum order dipatok terlalu rendah, konveksi bisa menerima order yang secara modal sebenarnya nyaris tidak untung setelah dipotong biaya setup pola dan waktu produksi yang terpakai untuk batch kecil.

Kesalahan yang Sering Terjadi

Beberapa pola kesalahan yang lebih spesifik dari sekadar “kurang teliti”:

  • Menyamakan harga kompetitor tanpa tahu komponen modal mereka. Kompetitor bisa jual lebih murah karena order kain dalam volume lebih besar sehingga harga per kilo turun, bukan karena marginnya lebih tipis.
  • Tidak update harga jual saat harga kain naik musiman. Harga kain combed bisa naik menjelang musim tertentu ketika permintaan produksi kaos serentak tinggi. Kalau harga jual dipatok statis dari awal tahun, margin ikut tergerus tanpa disadari.
  • Menghitung markup di kepala tanpa mencatat modal per komponen. Begitu ditanya “kain berapa, jahit berapa, aksesoris berapa,” banyak yang cuma punya angka gabungan kasar, bukan rincian per komponen — sehingga sulit tahu komponen mana yang sebenarnya bikin modal membengkak.
  • Menyamakan harga sampel/prototipe dengan harga produksi massal. Ongkos jahit satu potong sampel biasanya lebih mahal per unit karena belum masuk skema batch. Kalau harga sampel dipakai sebagai patokan harga jual satuan reguler, marginnya jadi lebih tebal dari yang diperkirakan — sebaliknya kalau harga produksi massal dipakai untuk kuantitas kecil, modalnya jadi tidak nutup.

Langkah Berikutnya

Setelah harga jual per potong dan skema grosirnya beres, langkah berikutnya adalah menata halaman produk dan minimum order di website supaya pembeli tidak salah paham soal skema harga bertingkat ini. Cara menyusunnya ada di cara mengatur minimum order dan custom produk konveksi kaos di WooCommerce.

Untuk gambaran bagaimana konveksi lain menata alur pemesanan custom dan minimum order dari sisi operasional, bisa dibaca di studi kasus konveksi baju mengelola produk custom dan minimum order.

Kalau produk konveksi dijual lewat WooCommerce, penataan harga ini juga perlu selaras dengan alur ongkir dan checkout secara keseluruhan — panduannya ada di WooCommerce untuk UMKM Produsen: Menata Produk, Ongkir, QRIS, dan Checkout.

Pertanyaan Umum

Berapa markup ideal untuk produk konveksi kaos? Tidak ada angka baku yang cocok untuk semua konveksi, karena tergantung skala produksi, kompleksitas jahitan, dan biaya operasional masing-masing. Yang lebih penting adalah konsisten memakai satu rumus (markup atau margin) supaya target untung tidak meleset seperti pada contoh markup 40% vs margin 40% di atas.

Kenapa harga jual satuan dan grosir konveksi bisa beda jauh? Karena ongkos jahit per potong turun saat produksi dalam batch besar, dan biaya setup pola/desain dibagi ke lebih banyak potong. Modal per potong di kuantitas kecil dan besar memang tidak sama, jadi wajar kalau harga jualnya juga berjenjang.

Apakah aksesoris seperti label dan hangtag perlu dihitung terpisah? Perlu. Nilainya memang kecil per potong, tapi kalau diabaikan pada volume produksi besar, akumulasinya bisa menggerus margin yang sudah dihitung rapi dari komponen kain dan jahit.

harga-produk Olshop

Artikel Terkait