Harga Minyak Dunia Memanas di Pucuk 7 Bulan, Pasar Cemas Perang Dagang dan Konflik Iran
Harga minyak dunia bertahan di level tertinggi tujuh bulan di tengah ketegangan perundingan nuklir AS-Iran dan ancaman kenaikan tarif impor 15 persen oleh Donald Trump.
Pasar komoditas energi global kembali menunjukkan volatilitas tinggi pada perdagangan Selasa (24/2). Harga minyak dunia bergerak tipis namun tetap bertahan di kisaran level tertingginya dalam hampir tujuh bulan terakhir. Dinamika ini terjadi seiring dengan sikap para pelaku pasar yang mencermati dua sentimen utama: perkembangan perundingan nuklir antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang kian memanas, serta ancaman kebijakan proteksionisme dagang terbaru dari Presiden Donald Trump.
Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah dan risiko perang dagang global menjadi pendorong utama yang menahan harga emas hitam ini di level psikologis yang tinggi. Investor global kini dalam posisi wait and see, menanti hasil konkret dari pertemuan diplomatik di Jenewa serta realisasi kebijakan tarif impor AS yang dapat mengguncang rantai pasok global.
Pergerakan Harga Minyak Mentah Global
Berdasarkan data perdagangan terakhir, kedua acuan harga minyak dunia mengalami koreksi tipis namun tetap berada dalam tren bullish jangka menengah.
- Minyak Mentah Brent: Kontrak berjangka Brent tercatat turun 9 sen atau setara 0,1 persen ke level US$71,40 per barel. Sehari sebelumnya, harga sempat menyentuh US$72,50, yang merupakan level tertinggi sejak 31 Juli tahun lalu.
- Minyak Mentah West Texas Intermediate (WTI): Harga kontrak berjangka minyak mentah AS ini melemah 11 sen atau 0,2 persen menjadi US$66,20 per barel. Pada sesi perdagangan sebelumnya, WTI sempat melonjak ke US$67,28, mencatatkan rekor tertinggi sejak 4 Agustus.
Koreksi tipis ini dinilai wajar sebagai bentuk aksi ambil untung (profit taking) sesaat setelah harga menyentuh resistensi kuat, namun sentimen dasar pasar tetap didominasi oleh kekhawatiran pasokan (supply disruption fears).
Eskalasi Ketegangan Nuklir AS-Iran
Faktor geopolitik yang paling dominan mempengaruhi harga minyak saat ini adalah ketegangan antara Washington dan Teheran. Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, mengonfirmasi bahwa putaran ketiga pembicaraan nuklir antara Iran dan AS dijadwalkan berlangsung pada Kamis ini di Jenewa, Swiss. Pertemuan ini dianggap krusial dalam menentukan arah stabilitas keamanan di kawasan Timur Tengah.
Amerika Serikat mendesak Iran untuk menghentikan program nuklirnya secara total. Sebaliknya, Teheran secara tegas menolak tuntutan tersebut dan membantah tuduhan bahwa mereka tengah mengembangkan senjata nuklir. Kebuntuan diplomatik ini diperparah oleh retorika keras dari Presiden AS Donald Trump.
Melalui unggahan di media sosial, Trump memperingatkan bahwa akan terjadi “hari yang sangat buruk” bagi Iran jika kesepakatan tidak tercapai. Peringatan ini diinterpretasikan pasar sebagai sinyal potensi tindakan militer atau sanksi ekonomi yang jauh lebih berat, yang berpotensi mengganggu selat Hormuz—jalur distribusi minyak terpenting di dunia.
Manuver Militer dan Evakuasi Diplomatik
Ketegangan tidak hanya terjadi di meja perundingan, tetapi juga di lapangan. Departemen Luar Negeri AS telah mengambil langkah preventif dengan menarik staf pemerintah non-esensial beserta keluarga mereka dari Kedutaan Besar AS di Beirut, Lebanon. Langkah ini diambil di tengah kekhawatiran akan meluasnya konflik militer yang melibatkan proksi Iran di kawasan tersebut.
Selain itu, kehadiran aset militer AS di kawasan juga menjadi sorotan. Kapal induk USS Abraham Lincoln dilaporkan terlacak berada hanya 700 km dari garis pantai Iran. Keberadaan armada tempur ini meningkatkan premi risiko (risk premium) pada harga minyak, karena pasar mengantisipasi skenario terburuk berupa konfrontasi fisik yang dapat memutus pasokan minyak global secara signifikan.
Ancaman Tarif Impor dan Dampak Ekonomi
Di luar isu geopolitik, sentimen pasar juga ditekan oleh kebijakan perdagangan AS. Presiden Trump baru saja mengeluarkan peringatan keras kepada negara-negara mitra dagang agar tidak mundur dari kesepakatan yang baru dinegosiasikan. Peringatan ini muncul sebagai respons setelah Mahkamah Agung AS membatalkan tarif darurat yang sebelumnya ia tetapkan.
Sebagai langkah balasan, Trump menyatakan rencana agresif untuk menaikkan tarif sementara impor AS dari seluruh negara. Tarif yang semula direncanakan sebesar 10 persen, kini diancam akan dinaikkan menjadi 15 persen. Angka ini merupakan batas maksimum yang diizinkan oleh undang-undang AS untuk tarif sementara.
Bagi pasar minyak, kebijakan ini seperti pedang bermata dua. Di satu sisi, ketidakpastian perdagangan dapat memicu inflasi dan menekan pertumbuhan ekonomi global, yang secara teori akan menurunkan permintaan minyak. Namun di sisi lain, proteksionisme ini menciptakan ketidakstabilan pasar yang seringkali membuat harga komoditas melambung sebagai aset lindung nilai.