Trump Lawan MA, Pasar Keuangan Dunia Guncang: Dolar AS Tertahan di Tengah Ancaman Tarif Baru 15%

Ketidakpastian menyelimuti pasar global usai Trump menaikkan tarif menjadi 15% sebagai respons putusan MA. Mata uang berisiko melemah dan kesepakatan dagang terancam.

Tim Titik Awal Tim Titik Awal 23 Februari 2026
Share

Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) diperdagangkan dalam rentang yang sangat terbatas pada pembukaan pasar sesi Asia, Senin pagi (23/2). Pelaku pasar global kembali diselimuti awan ketidakpastian yang tebal menyusul eskalasi konflik antara eksekutif dan yudikatif di Washington. Pemicu utamanya adalah kritik tajam Presiden Donald Trump terhadap Mahkamah Agung AS yang baru saja membatalkan penggunaan kekuasaan darurat presiden untuk memberlakukan tarif timbal balik.

Kondisi ini menciptakan iklim investasi yang sarat risiko. Alih-alih meredakan ketegangan, respons Trump terhadap kekalahan hukumnya justru memicu kekhawatiran baru akan stabilitas perdagangan internasional. Langkah agresif Gedung Putih untuk menaikkan tarif global secara sepihak telah mengubah narasi pasar dari optimisme pemulihan menjadi kewaspadaan tinggi terhadap potensi perang dagang yang lebih luas.

Dinamika Mata Uang Utama dan Kripto

Volatilitas pasar terlihat jelas pada pergerakan mata uang utama dunia dan aset digital. Sentimen risk-off (penghindaran risiko) mulai mendominasi sebagian besar keputusan para trader di awal pekan ini:

  • Mata Uang Emerging Markets: Mata uang berisiko tinggi seperti peso Meksiko terpantau mengalami pelemahan tipis. Sebagai mitra dagang utama AS, Meksiko berada di garis depan dampak kebijakan proteksionis Trump, membuat mata uangnya sangat sensitif terhadap berita tarif.
  • Safe Haven & Mata Uang Utama: Di sisi lain, euro dan yen Jepang terlihat merangkak naik. Yen, khususnya, mendapatkan keuntungan dari statusnya sebagai aset safe haven di tengah gejolak geopolitik.
  • Dolar Selandia Baru (Kiwi): Mata uang ini mencatatkan penguatan yang cukup signifikan, menjadi anomali positif di tengah pasar yang lesu. Penguatan ini didorong oleh rilis data penjualan ritel kuartal keempat Selandia Baru yang naik melampaui ekspektasi para ekonom, memberikan sinyal ketahanan ekonomi domestik.
  • Baht Thailand: Pergerakan Baht mengalami fluktuasi yang cukup tajam, sejalan dengan volatilitas harga emas dunia yang menjadi aset korelasi utamanya.
  • Bitcoin: Di pasar kripto, aset digital terbesar ini masih tertahan pada level rendahnya. Bitcoin belum mampu memulihkan posisinya setelah mengalami koreksi signifikan sepanjang akhir pekan, mencerminkan keraguan investor terhadap aset spekulatif di masa ketidakpastian regulasi.

Eskalasi Tarif: Dari 10% Menjadi 15%

Ketegangan pasar mencapai titik didih baru setelah Trump, pada hari Sabtu, mengeluarkan pernyataan mengejutkan. Ia mengumumkan rencana kenaikan tarif global dari level 10% menjadi 15%. Langkah drastis ini diambil sebagai manuver pertahanan untuk mempertahankan kebijakan perdagangan proteksionisnya pasca putusan Mahkamah Agung yang membatasi wewenangnya.

Keputusan ini bukan sekadar retorika politik, melainkan sebuah sinyal bahwa pemerintahan saat ini bersedia mengambil risiko turbulensi ekonomi demi menegakkan agenda “America First”. Dampak dari pengumuman ini langsung terasa secara instan pada hari Minggu, memicu reaksi keras dari mitra dagang strategis AS.

Reaksi Global: Penundaan dan Pembatalan Kesepakatan

Implikasi diplomatik dari kenaikan tarif ini mulai merusak struktur kerjasama internasional yang sedang dibangun:

  1. Uni Eropa: Kepala perdagangan Eropa segera mengusulkan penghentian proses ratifikasi kesepakatan dagang dengan AS. Langkah ini menunjukkan bahwa kepercayaan Eropa terhadap komitmen AS mulai luntur, dan mereka siap mengambil langkah balasan jika proteksionisme berlanjut.
  2. India: Dampak serupa terjadi di Asia Selatan, di mana India memutuskan untuk menunda pembicaraan finalisasi kesepakatan dagang sementara. Penundaan ini menjadi pukulan bagi upaya diversifikasi rantai pasok global yang melibatkan India sebagai pemain kunci.

Analisis pasar menunjukkan bahwa ketidakpastian ini lebih berbahaya daripada kebijakan itu sendiri. Nick Twidale, kepala analis pasar di AT Global Markets, memberikan pandangannya mengenai psikologis pasar saat ini.

“Kita sudah cukup berpengalaman menghadapi Trump dan kita tahu dia tidak akan tinggal diam menerima kekalahan ini,” ujar Twidale. “Meningkatnya ketidakpastian mengenai langkah Trump selanjutnya jauh lebih membebani pasar ketimbang potensi positif dari penurunan tarif maupun pengembalian dana.”

Klarifikasi Pejabat AS dan Stabilitas Perjanjian

Di tengah kekacauan narasi yang beredar, pejabat senior AS berupaya keras melakukan kontrol kerusakan (damage control). Mereka menegaskan bahwa kekalahan Trump di pengadilan tidak serta merta membatalkan kesepakatan dagang yang telah selesai dinegosiasikan.

Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer, menyatakan pada hari Minggu bahwa perjanjian bilateral dengan mitra utama tetap memiliki kekuatan hukum. Ia menekankan bahwa kesepakatan dengan China, Uni Eropa, Jepang, dan Korea Selatan tetap berlaku sebagaimana mestinya, meskipun ada retorika keras dari Gedung Putih. Pernyataan ini bertujuan untuk mencegah capital outflow besar-besaran dan menjaga kepercayaan investor institusional.

Tinjauan Kinerja Pasar Saham dan Obligasi

Meskipun awal pekan ini diwarnai ketegangan, pasar saham AS menutup pekan sebelumnya dengan catatan positif. Pada penutupan Jumat lalu, indeks S&P 500 berhasil menguat sebesar 0,7%. Kenaikan ini menandai kinerja mingguan terbaik indeks tersebut sejak 9 Januari.

Optimisme investor pada hari Jumat sebagian besar didorong oleh putusan Mahkamah Agung yang awalnya dianggap akan meredam kebijakan tarif agresif Trump, sehingga mampu menutupi kekhawatiran terkait ketegangan geopolitik antara AS dan Iran. Sentimen positif ini bahkan mendorong indeks ETF pasar berkembang (emerging markets) menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa.

Namun, di pasar obligasi, cerita yang berbeda sedang terjadi. Imbal hasil (yield) obligasi AS tenor 10-tahun naik dua basis poin ke level 4,08% dalam sesi perdagangan yang sangat volatil. Kenaikan yield ini dipicu oleh dua faktor utama:

  • Rilis data pertumbuhan ekonomi dan inflasi yang beragam, membingungkan proyeksi kebijakan The Fed.
  • Ketidakpastian anggaran negara akibat putusan tarif, yang berpotensi memengaruhi penerimaan negara dan defisit fiskal.

Prospek Pasar Asia dan Komoditas

Memasuki sesi perdagangan Asia hari ini, bursa saham menunjukkan sinyal pembukaan yang bervariasi (mixed). Pasar Australia cenderung stagnan, sementara bursa Hong Kong menunjukkan potensi penguatan teknikal. Namun, perlu dicatat bahwa pergerakan awal ini terjadi sebelum dampak penuh dari pengumuman kenaikan tarif Trump terserap oleh pasar Asia. Volume perdagangan di kawasan ini juga diperkirakan lebih tipis karena pasar obligasi Jepang dan pasar saham China masih ditutup karena hari libur nasional.

Di sektor komoditas, perhatian utama para trader tertuju pada pasar minyak mentah. Fokus pasar beralih ke Jenewa, seiring rencana dimulainya kembali pembicaraan diplomatik antara AS dan Iran. Pertemuan ini diharapkan dapat menjadi solusi atas kebuntuan program nuklir Teheran. Kesepakatan positif di Jenewa berpotensi menambah pasokan minyak global dan menekan harga, sementara kegagalan pembicaraan dapat memicu lonjakan harga energi yang akan semakin memperparah tekanan inflasi global di tengah perang tarif.

Artikel Terkait