S&P Beri Peringatan Keras, IHSG Ambles ke Level 8.100

S&P Global Ratings memperingatkan risiko penurunan profil kredit Indonesia akibat lonjakan biaya utang di tengah pelemahan IHSG yang menyentuh level kritis 8.139.

Tim Titik Awal Tim Titik Awal 27 Februari 2026
Share

Lembaga pemeringkat internasional, S&P Global Ratings, baru-baru ini mengeluarkan peringatan serius mengenai meningkatnya tekanan fiskal di Indonesia. Fokus utama kekhawatiran ini terletak pada lonjakan biaya pembayaran utang yang berpotensi memperburuk profil kredit negara dan memicu tindakan peringkat negatif di masa mendatang. Kondisi ini terjadi di tengah sentimen pasar modal yang sedang tertekan, ditandai dengan koreksi tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Rain Yin, analis sovereign di S&P Global Ratings, mengungkapkan bahwa beban bunga utang Indonesia “sangat mungkin” telah melewati ambang batas kritis sebesar 15% dari total pendapatan pemerintah pada tahun lalu. Angka ini merupakan metrik vital yang dipantau ketat oleh lembaga pemeringkat untuk mengukur keberlanjutan fiskal sebuah negara.

Meskipun saat ini S&P masih mempertahankan outlook stabil pada level BBB, indikasi kenaikan rasio pembayaran bunga ini menjadi sinyal merah. Jika posisi tersebut tetap berada di atas ambang 15% secara berkelanjutan, S&P tidak akan ragu untuk mengubah pandangan terhadap peringkat kredit Indonesia menjadi lebih negatif. Kenaikan rasio ini dinilai cukup signifikan sejak masa pandemi dan hingga kini belum menunjukkan tren penurunan yang cepat ke level pra-pandemi.

Tekanan Fiskal dan Risiko di Era Pemerintahan Baru

Sentimen negatif terhadap posisi fiskal Indonesia sebenarnya telah mulai terakumulasi sejak awal tahun 2026. Sebelumnya, Moody’s Ratings telah mengambil langkah lebih agresif dengan mengubah outlook peringkat Indonesia (Baa2) dari stabil menjadi negatif pada awal Februari. Langkah Moody’s tersebut didasari oleh kekhawatiran atas melemahnya tata kelola dan meningkatnya risiko fiskal di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

Beberapa poin utama yang menjadi sorotan lembaga pemeringkat internasional antara lain:

  • Defisit Fiskal: Indonesia mencatat defisit anggaran sebesar 2,9% dari Produk Domestik Bruto (PDB) tahun lalu. Angka ini berada sangat dekat dengan batas legal 3% dan lebih tinggi dari ekspektasi awal akibat lesunya penerimaan negara.
  • Kelemahan Penerimaan: Rendahnya realisasi pendapatan negara membuat beban bunga tetap tinggi secara proporsional, yang pada akhirnya mengikis bantalan fiskal (fiscal buffer) nasional.
  • Ketidakpastian Kebijakan: Investor dan lembaga pemeringkat terus memantau apakah kerangka fiskal jangka menengah tetap berpegang pada prinsip kehati-hatian yang selama ini menjadi kekuatan Indonesia.

Ancaman Arus Keluar Modal dan Dampak MSCI

Selain faktor fundamental fiskal, sentimen investor asing juga terpukul oleh peringatan dari MSCI Inc. Lembaga indeks tersebut memperingatkan adanya kemungkinan penurunan status (downgrade) Indonesia dari kategori pasar negara berkembang (Emerging Market) jika reformasi terkait transparansi dan kelayakan investasi tidak segera dilakukan. Hal ini memicu kekhawatiran akan terjadinya pembalikan arus modal (capital outflow) secara masif.

Kim Eng Tan, Managing Director S&P Global Ratings untuk kawasan Asia Pasifik, menekankan bahwa meskipun gejolak di pasar saham tidak secara langsung mengubah peringkat kredit negara, risiko pelarian modal dapat meningkatkan biaya pembiayaan pemerintah. Jika investor asing menarik dananya dari bursa saham dan instrumen utang, nilai tukar Rupiah akan mengalami tekanan hebat, yang pada gilirannya akan membebani keuangan publik melalui kenaikan biaya impor dan subsidi.

Laporan Pasar: IHSG Terperosok ke Level 8.139

Kondisi makroekonomi yang penuh tekanan ini tercermin langsung pada performa pasar modal dalam negeri. Pada perdagangan Kamis (26/2/2026), IHSG ditutup merosot 1,04% atau kehilangan 86 poin ke posisi 8.235,26. Namun, selama sesi perdagangan, indeks bahkan sempat menyentuh titik terendah di level 8.139,82.

Berikut adalah ringkasan performa pasar pada penutupan perdagangan tersebut:

Indikator PasarNilai / Posisi
Posisi Penutupan IHSG8.235,26 (-1,04%)
Level Terendah Harian8.139,82
Nilai TransaksiRp28,14 Triliun
Volume Saham56,52 Miliar Lembar
Frekuensi Transaksi3,14 Juta Kali
Pelemahan indeks didominasi oleh rontoknya harga saham-saham berkapitalisasi besar (*big caps*). Sektor konsumen non-primer, transportasi, dan infrastruktur menjadi penekan utama. Saham-saham seperti BUVA dan VKTR mengalami koreksi paling dalam, disusul oleh emiten tambang BUMI yang turut memperberat laju indeks.

Analisis Teknikal dan Proyeksi Mendatang

Secara teknikal, pergerakan IHSG saat ini berada dalam fase yang mengkhawatirkan. Berdasarkan analisis Panin Sekuritas, posisi indikator stochastic masih menunjukkan tren menurun, yang berarti potensi pelemahan lanjutan masih terbuka lebar. Fokus pasar saat ini tertuju pada level kritis (critical level) di Neckline Double Bottom pada area 8.214 hingga 8.140.

Pemerintah dan regulator pasar modal telah berupaya merespons situasi ini dengan menjanjikan sejumlah reformasi, termasuk penyesuaian aturan free float untuk meningkatkan likuiditas bursa. Namun, pasar masih menunggu bukti nyata dari efektivitas kebijakan tersebut di tengah beban utang yang kian membengkak. Keberhasilan pemerintah dalam menjaga defisit di bawah 3% serta meningkatkan rasio penerimaan akan menjadi kunci utama dalam mempertahankan kepercayaan S&P dan lembaga pemeringkat internasional lainnya di tahun 2026 ini.

Artikel Terkait