Bitcoin Ambles ke US$ 64.000: Dampak Tarif Trump dan Sinyal Rebound Pasar Kripto

Harga Bitcoin anjlok ke level US$ 64.000 akibat kebijakan tarif impor Presiden Trump. Simak analisis lengkap dampak makroekonomi dan potensi rebound pasar kripto.

Tim Titik Awal Tim Titik Awal 24 Februari 2026
Share

Pasar aset kripto global mengalami tekanan jual yang signifikan pada perdagangan Selasa (24/2/2026) pagi. Harga Bitcoin (BTC), sebagai aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar, terperosok hingga menyentuh level US$ 64.000-an. Koreksi tajam ini tidak terjadi di ruang hampa, melainkan merupakan respons langsung terhadap kombinasi pelemahan bursa saham global dan kebijakan proteksionis terbaru dari Amerika Serikat.

Sentimen negatif memuncak setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan keputusan untuk menaikkan tarif impor dasar menjadi 15%. Kebijakan ini memicu kekhawatiran meluas mengenai potensi perang dagang dan perlambatan ekonomi, yang seketika mendorong investor untuk mengambil sikap risk-off atau menghindari aset berisiko tinggi. Dampaknya langsung terasa pada valuasi pasar kripto yang menyusut drastis dalam hitungan jam.

Berdasarkan data pasar terkini, kapitalisasi pasar kripto global tercatat anjlok sebesar 3,74%, menyisakan valuasi total sebesar US$ 2,23 triliun. Penurunan ini menghapus miliaran dolar nilai pasar dalam waktu singkat, menegaskan sensitivitas aset digital terhadap gejolak makroekonomi global.

Rincian Kejatuhan Harga Aset Kripto Utama

Pada pukul 06.20 WIB, Bitcoin (BTC) diperdagangkan dengan penurunan sebesar 3,94%, membawanya ke posisi US$ 64.857 per koin. Jika dikonversikan ke mata uang rupiah (kurs Rp 16.835), harga Bitcoin kini berada di kisaran Rp 1,09 miliar. Penurunan ini menyeret turun hampir seluruh aset kripto utama lainnya, menciptakan lautan merah di papan perdagangan.

Indeks CoinDesk 20, yang menjadi tolok ukur kinerja 20 aset kripto terbesar dan terlikuid di pasar, mencatatkan penurunan tajam sebesar 4,14%. Berikut adalah ringkasan pergerakan harga aset-aset blue chip di pasar kripto:

Aset KriptoSimbolHarga (US$)Perubahan (%)
BitcoinBTC64.857-3,94%
EthereumETH1.862-4,68%
Binance CoinBNB598-2,73%
SolanaSOL78-5,48%
XRPXRP1,35-2,64%
DogecoinDOGE0,09-2,33%
Ethereum, sebagai altcoin terbesar, memimpin penurunan di antara aset lapis pertama dengan koreksi hampir 5%, disusul oleh Solana yang kehilangan lebih dari 5% nilainya. Penurunan ini mencerminkan kepanikan pasar yang merata, di mana likuiditas ditarik keluar dari ekosistem *smart contract* maupun aset spekulatif seperti *memecoin*.

Analisis Dampak Kebijakan Tarif Trump

Faktor utama yang menjadi katalis penurunan ini adalah kebijakan agresif pemerintahan Trump. Selama 18 hari terakhir, Bitcoin kesulitan menembus resistensi psikologis di US$ 75.000 dan sempat menguji ulang level support di US$ 64.200 pada hari Senin. Tekanan jual semakin intensif ketika pasar merespons kenaikan tarif impor dasar menjadi 15%.

Secara historis, kebijakan tarif sering kali memicu volatilitas jangka pendek namun membuka peluang pemulihan jangka panjang. Pada April 2025, pemerintahan Trump telah menandatangani perintah eksekutif untuk menerapkan tarif resiprokal terhadap mitra dagang utama AS. Eskalasi terjadi pada 9 April 2025 ketika tarif tambahan diberlakukan kepada 75 negara, termasuk tarif khusus 34% untuk produk asal China.

Reaksi pasar saat itu sangat mirip dengan situasi saat ini. Bitcoin sempat menyentuh level terendah dalam lima bulan di posisi US$ 74.600. Namun, yang terjadi selanjutnya adalah pola pemulihan berbentuk V, di mana harga melonjak 38% hanya dalam waktu satu bulan pasca-implementasi kebijakan tersebut. Pola ini memberikan harapan bahwa penurunan saat ini mungkin bersifat sementara sebelum pasar menyesuaikan diri dengan realitas ekonomi baru.

Dinamika Safe Haven dan Likuiditas Bank Sentral

Dalam periode ketidakpastian tinggi, investor institusional cenderung mengamankan modal mereka ke dalam aset kas (Dolar AS) dan obligasi pemerintah, meninggalkan aset berisiko seperti saham dan kripto. Hingga saat ini, Bitcoin memang belum sepenuhnya berperilaku sebagai safe haven murni seperti emas, melainkan lebih berfungsi sebagai aset yang sangat responsif terhadap likuiditas global.

Meskipun sentimen jangka pendek terlihat bearish, sejumlah analis melihat potensi rebound yang kuat. Tesis utamanya adalah respons bank sentral terhadap perlambatan ekonomi akibat tarif tinggi. Ketika pasar mulai memperkirakan bahwa pemerintah atau bank sentral akan menyuntikkan likuiditas tambahan untuk menopang ekonomi yang tertekan tarif, aset kripto cenderung menjadi penerima manfaat utama.

Indikator pendanaan pasar uang oleh The Federal Reserve (The Fed) kerap menjadi sinyal awal pembalikan tren. Sebagai contoh, pada krisis Maret 2020, lonjakan fasilitas likuiditas The Fed bertepatan dengan titik balik harga Bitcoin, yang kemudian memicu reli masif dari US$ 4.400 menuju US$ 42.000 dalam beberapa bulan berikutnya. Pelaku pasar kini memantau apakah pola serupa akan terulang di tengah tekanan ekonomi tahun 2026.

Korelasi dengan Sektor Teknologi dan AI

Selain faktor makroekonomi, pasar kripto juga sedang menantikan laporan kinerja kuartalan Nvidia yang dijadwalkan rilis pekan ini. Laporan ini menjadi sangat krusial karena tingginya korelasi antara pasar kripto dengan sektor teknologi, khususnya saham-saham yang terkait dengan kecerdasan buatan (AI).

Kekhawatiran mengenai valuasi sektor AI yang dianggap terlalu tinggi (overvalued) serta meningkatnya utang perusahaan teknologi telah menekan pasar saham secara umum. Saham perusahaan infrastruktur AI seperti CoreWeave dan Oracle tercatat telah anjlok lebih dari 50% dari rekor tertingginya. Jika laporan keuangan Nvidia mengecewakan, hal ini dapat memicu aksi jual lanjutan yang merembet ke pasar aset digital.

Ketahanan Fundamental dan Sinyal Smart Money

Di tengah badai harga, fundamental jaringan Bitcoin menunjukkan ketahanan yang luar biasa. Sektor penambangan (mining) tetap kokoh, dengan hashrate jaringan yang telah pulih sepenuhnya setelah sempat turun 25% pada Januari lalu. Efisiensi perangkat keras ASIC yang dirilis sepanjang 2024 hingga awal 2025 memungkinkan penambang untuk tetap mencetak profitabilitas, bahkan dengan asumsi biaya listrik sekitar US$ 0,07 per kilowatt-hour.

Data dari Commodity Futures Trading Commission (CFTC) memberikan perspektif menarik mengenai pergerakan “uang pintar” atau smart money. Laporan terbaru menunjukkan bahwa spekulan besar, termasuk hedge fund, telah membalikkan posisi mereka dari net short menjadi net long pada kontrak berjangka Bitcoin di CME. Analis pasar, Tom McClellan, mencatat bahwa dalam dua kejadian serupa di masa lalu, pergeseran posisi hedge fund seperti ini selalu mendahului terbentuknya dasar harga yang signifikan.

Kesimpulan dan Proyeksi Pasar

Meskipun belum ada indikator tunggal yang dapat memastikan apakah level US$ 60.200 pada 6 Februari lalu adalah titik terendah absolut untuk siklus ini, konstelasi data saat ini memberikan sinyal beragam namun optimis untuk jangka menengah. Kombinasi antara ekspektasi suntikan likuiditas, posisi long institusional, serta ketahanan sektor penambangan dinilai berpotensi mendorong Bitcoin kembali ke kisaran US$ 75.000 dalam waktu dekat.

Bagi para pedagang dan investor, fase volatilitas tinggi ini kemungkinan akan menjadi periode konsolidasi yang menguji mentalitas pasar sebelum pergerakan besar berikutnya terjadi. Kehati-hatian tetap diperlukan, namun data historis menunjukkan bahwa kepanikan akibat kebijakan makro sering kali menjadi peluang akumulasi terbaik.

Artikel Terkait